Merapikan Buku


Meskipun semakin jarang melakukan, bagi saya membaca buku adalah terapi. Bahkan kegiatan merapikan buku pun terapi. Aroma kertas yang walau terkadang bikin sesak karena sempat diguyur bocoran hujan dari atap, sulit tergantikan oleh halaman demi halaman paperless sebuah file PDF. Warna-warni punggung buku dengan aneka tipografi, menciptakan pola acak yang estetik meski mereka ditata seberantakan bagaimanapun.

Suatu hari yang lampau saya ingat pernah mengidamkan punya banyak buku di rumah. Tertata rapi pada rak dengan klasifikasi abjad nama penulis atau mungkin berdasar negara asal penulis, ya, terus terang sampai sekarang saya masih penasaran sama magis penulis-penulis Jepang yang bersahaja dalam mengolah tulisan itu.

Sekarang buku-buku itu memang ada, belum sebanyak harapan saya, tapi sesedikit itu pun rasanya ada saja buku yang belum sempat dibaca atau cuma separuh tebal buku terbaca.

Sekarang, alih-alih membaca buku tebal, sekadar membaca artikel di situs berita yang instan-instan itu pun kok berasa berat ya. Padahal waktu senggang banyak. Buktinya saya sempat-sempat saja menghabiskan list video di kolom trending Youtube sampai dini hari. Yang padahal setelah saya renungkan kembali, apa gunanya saya menonton video-video orang makan kepedesan atau kekenyangan selama berjam-jam?

Biasanya tak terasa hari Minggu sudah pukul delapan malam, dan usai menyadari waktu sudah malam, saya selalu menyesal kenapa tidak membaca buku saja ketimbang menonton video-video unboxing entah apa pun yang saya pun tidak tahu mengapa saya menontonnya.

Mengapa koran atau media cetak lain semacam majalah & tabloid kini sudah benar-benar mencapai senjakala akibat media daring, tetapi televisi tetap saja ada padahal Youtube semakin mudah dan murah untuk diakses? Memangnya penggalan berita di caption akun instagram surat kabar sudah cukup memuaskan curiosity kita terhadap informasi aktual? Apakah semata karena televisi bentuknya audio visual yang konon adalah jenis media paling efektif dalam menyihir alam bawah sadar? Atau karena UHF masih dianggap terdepan dalam menjangkau pelosok-pelosok Indonesia?

Apakah nanti mengaji Al-Quran pun dirasa generasi Z lebih asyik untuk mendengarkan audiobook-nya saja? Yakin tidak curiga ayatnya bakal dipenggal-penggal seperti caption berita di akun instagram surat kabar, lalu untuk mendengarkan secara utuh kita harus register dan berlangganan di aplikasi audio streaming? Atau alternatif lain harus like dulu atau menyaksikan video pariwara selama 30 detik untuk dapat terus mengaji?[]

2 comments:

Powered by Blogger.