Memviralkan Kemerdekaan di Era Digital



Sudahkah kita merdeka?

Adalah pertanyaan provokatif yang kerap saya temui di linimasa Twitter sejak 2010 hingga 17 Agustus 2017. Di hari kemerdekaan itu, ada saja influencer, endorser, maupun orang-orang terdekat yang mencuit perihal keresahan bahwa kemerdekaan belum merata dirasakan oleh setiap rakyat Indonesia hingga ke pelosok negeri.

Padahal, bukankah jika belum merdeka, kita semua termasuk saya sendiri mustahil bisa leluasa beropini dalam cuitan atau mengudarakan broadcast message grup percakapan, bahkan mustahil dapat mengunggah postingan blog seperti ini sebebas saat ini?

Atau apakah kemerdekaan harus selalu dimaknai sebagai kemakmuran & kesejahteraan?

Saya coba melontar kembali pertanyaan tersebut, sungguhkah kita belum merdeka sehingga provokasi "Sudahkah kita merdeka?" harus selalu diputar ulang setiap tahun semacam alunan lagu Maher Zain yang setia mengiringi orang-orang berbelanja di mal saban bulan Ramadan?

Digitalisasi Rampingkan Digit Kemiskinan


Salah satu parameter krusial untuk menakar sudahkah kita merdeka dapat ditinjau dari aspek ekonomi; seberapa besar persentase penduduk miskin di Indonesia saat ini? Kabar baiknya, berdasar data BPS per Maret 2018 kemarin, Indonesia berhasil mencapai persentase terkecil sejak 1999, yakni sebesar 9,82 persen. Untuk kali pertama, data persentase penduduk miskin di negara kita sekadar 1 digit, setelah pada tahun sebelumnya selalu 2 digit.


Mengiblat pada data BPS, saya berpendapat bahwa perlahan kesempatan penduduk Indonesia untuk memperoleh kemakmuran sudah mulai terbuka setelah sebelumnya cuma isapan jempol dan janji-janji kosong politisi. Karena saya memercayai bahwa suatu bangsa harus makmur terlebih dahulu; setidaknya perut dipastikan tak keroncongan, sebelum otak mampu bekerja keras merancang masa depan.

Apa sebetulnya yang sukses memangkas persentase penduduk miskin di Indonesia?

Generasi Millenial Viralkan Teknologi Digital




Dalam perjalanan berangkat ke tempat kerja pada suatu pagi, saya singgah sejenak untuk sarapan nasi kuning yang terletak di samping SD Negeri yang kebanyakan siswanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Saat menyantap sarapan pagi itu, dari seberang meja saya mendengar percakapan antar ibu-ibu yang baru saja mengantar anak mereka dan terlebih dahulu sarapan sebelum pulang ke rumah.

Mereka sedang membincang betapa menggemaskannya Baby Tatan dan Kirana yang kini saya ketahui populer di Instagram dan kerap menjadi trending di kolom Explore IG Indonesia. Sesekali mereka memperdebatkan lebih lucu mana antara Baby Tatan atau Kirana dan perdebatan itu belum selesai-selesai sampai saya melanjutkan perjalanan.

Kendati saya punya akun Instagram sejak beberapa tahun lalu, sebelum mendengar percakapan barusan saya tidak tahu siapa itu Baby Tatan dan Kirana. Ternyata mereka adalah anak-anak dari generasi millenial yang kemudian viral di media sosial. Dan penggemar mereka berasal dari lintas strata sosial, di antaranya dua ibu-ibu barusan.

Teringat masa-masa awal kuliah pada pertengahan tahun 2011, saat saya harus merogoh kocek paling tidak 200 ribu untuk paket data bulanan Blackberry Internet Service (BIS) Full Service. Waktu itu OS yang dianggap paling mumpuni untuk bermedia sosial memang Blackberry OS, adapun Android baru populer di kalangan geek. Robot hijau itu belum memikat semua kalangan termasuk bapak-ibu dan opa-oma seperti sekarang karena perangkat ber-OS Android belum secanggih, semurah dan sebervariasi saat ini.

Mau tidak mau, untuk berkomunikasi via aplikasi percakapan maupun memperoleh informasi teraktual dari Twitter, saya mesti berlangganan paket BIS Full Service tersebut yang sebetulnya cukup mahal; mengikis 20 persen uang saku saya setiap bulannya.

Mengacu pada hukum supply & demand, saya pikir mengapa harga paket data pada periode tahun tersebut masih mahal adalah karena pengguna mobile internet belum banyak. Harga smartphone dengan kinerja yang dapat diandalkan perlu ditebus minimal dua juta rupiah. Masyarakat menengah ke bawah, terutama yang tergolong generasi X belum menjadikan smartphone sebagai kebutuhan primer sehingga provider belum merasa perlu untuk berperang harga paket data.

Namun sekarang kondisinya sudah berubah.


Pesatnya pertumbuhan pengguna smartphone di Indonesia dari 2016-2019 sedikitnya dipengaruhi oleh kian murahnya smartphone dan harga paket data, sehingga internet kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat dari ragam lapisan sosial. Sumber eMarketer memprediksi pengguna smartphone di Indonesia pada 2019 akan meningkat 26,8 persen dari tahun 2016 yakni sebesar 92 juta pengguna.

Dengan demikian pada tahun depan 36,8 persen dari total 250 juta jiwa akan terbiasa dengan konten dan aplikasi digital yang dikoneksikan internet menuju gawai-gawai yang setia dalam genggaman, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengguna aktif smartphone terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India dan Amerika.

Teknologi digital yang terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat membuka kemerdekaan bagi siapa pun yang mau gigih berusaha dan belajar hal-hal baru. Petani sayur dan buah di desa yang terpaut ratusan kilometer dari pusat kota, tak usah lagi menambatkan nasib mereka kepada para tengkulak yang seenaknya menembak harga.

Sumber: http://8villages.com/full/petani/article/id/5a12aec3b62e5cf65e90a6b3

Melalui aplikasi jual beli di internet, kini mereka dapat memasarkan sendiri langsung sayur-buah segar ke tangan konsumen dalam partai besar atau kecil, pun bebas menentukan harga yang pantas. Rantai distribusi yang sebelumnya rigid kini dapat dipenggal cukup dengan menyapu layar smartphone sejutaan dengan paket data ekonomis, asalkan mau belajar.

Sumber: https://www.tokopedia.com/susifrozen/risoles-montogg-sosis-telur-mayo

Begitupun dengan para pengusaha kuliner. Kini mereka tak usah larut dalam keputusasaan lantaran tak mampu menyewa toko berlokasi strategis di jalur-jalur arteri pusat kota. Cukup memanfaatkan garasi rumah dan sebentang banner di perumahan yang berada cukup jauh dari jalan utama, seorang ibu rumah tangga yang berjualan risoles mayo dapat menjaring banyak konsumen melalui aplikasi kurir makanan online.

Lokasi bukan lagi menjadi senjata pamungkas bagi para pengusaha kuliner. Amunisi pada era digital adalah informasi berupa foto-foto hidangan yang instagramable, daftar menu bercantum harga, dan titik lokasi pada Google Maps sebagai panduan bagi kurir makanan online untuk mendistribusikannya ke tangan konsumen.

Berkat teknologi informasi yang sudah menjangkau berbagai daerah, kita dapat memesan pempek langsung dari Palembang. Dengan kata lain, kesempatan kita untuk melakukan apa saja sesuai passion dan expertise masing-masing untuk kemudian memviralkan kepada dunia sudah tak terbebat geografis.

Menurut saya turning point yang membuat gaya hidup digital kian terasa saat ini adalah kehadiran ojek online pada 2015 yang pada mulanya menimbulkan kontroversi. Paska disrupsi digital yang terjadi kala itu, kendaraan umum konvensional semacam bus kota, taksi, terlebih ojek pangkalan perlahan kehilangan pelanggan.

Tua-muda, lelaki-wanita yang sama-sama memilih menggunakan jasa ojek online semakin tersadarkan bahwa smartphone adalah kebutuhan primer sehari-hari dan paket data mungkin sudah menjadi komoditi serupa sembako.

Melalui aneka kanal media sosial, generasi millenial kini sukses memviralkan penerapan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari kepada generasi X yang sebelumnya dikenal konservatif menyikapi perubahan. Aset berharga perusahaan pada masa depan bukanlah saham dan mesin, melainkan sebaran informasi lintas generasi yang saling terjalin.

Digitalisasi Efektif Memperluas Wawasan dan Lapangan Pekerjaan




Moladin adalah situs jual beli sepeda motor yang menurut saya berhasil mengadopsi teknologi digital pada implementasi bisnis secara efektif. Dengan menjamin harga terendah karena menjalin kerjasama yang baik dengan dealer motor terpercaya, seseorang yang hendak membeli motor di Moladin akan dimudahkan dalam proses pengajuan kredit motor dengan DP dan cicilan bersahabat.





Moladin pun menyediakan spare parts & aksesoris yang menjamin performa motor dapat terus berputar prima sekaligus bergaya. Yang menarik, Moladin menyediakan fitur forum sebagai wadah sesama pencinta roda dua untuk saling mengupas pengalaman seputar perawatan sepeda motor dalam berbagai thread. Interaksi antar pengguna tersebut menjelma indeks pengetahuan digital bagi pengendara awam yang sedang mencari solusi untuk masalah teknis tunggangannya.

Pada masa kini, remaja yang baru lulus SMA dan gagal tes SNMPTN tak perlu menganggur dalam penantian tes ulangan tahun depan. Berkat DP dan cicilan ringan yang ditawarkan oleh Moladin, ia dapat menebus motor matik yang masih gres melalui website Moladin untuk armada ojek online.

Sebelum pada suatu hari mendatang anak muda itu memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi atau mungkin ia berniat membangun startup sendiri bermodalkan penghasilan menarik ojek online yang motornya dikredit melalui Moladin.

Akankah kita pada 17 Agustus 2018 kembali memutar kaset usang "Sudahkah kita merdeka?" padahal kesempatan sudah sedemikian terbuka?

Karena di era digital sekarang layanan audio streaming sudah murah, baiknya peram kaset usang itu, saatnya mainkan masa depan. Tak usah diputar, cukup ketuk "play" kemudian "next" menuju kemerdekaan.[]

Artikel ini diikutsertakan pada kompetisi blog 17 Agustus yang diadakan Moladin dengan tema "Merdeka di Era Digital"

No comments:

Powered by Blogger.