Teman Melangkah Tiap Hari: Review Xiaomi Mi Band 2

Guna mengimbangi hobi saya yang paling jahanam yakni makan, saya harus olahraga.


Permasalahannya adalah saya tidak boleh melakukan jenis olahraga yang berat-berat. Olahraga lari, bahkan jogging sekalipun tidak dianjurkan untuk dilakukan oleh orang-orang berberat badan lebih dari 90 kilogram seperti saya. Mau tahu berat badan saya? Tiga minggu yang lalu berat badan saya 106,2 kg. Cukup jelas ya.

Olahraga yang dokter perusahaan rekomendasikan kepada saya untuk menurunkan berat badan secara perlahan adalah berjalan kaki. Awalnya saya sempat ragu apakah betul jalan kaki bisa dibilang atau dikategorikan sebagai olahraga? Bukankah jalan kaki hanyalah rangkaian aktivitas yang mau tidak mau secara tidak sadar pun kita lakukan sesehari?


Sampai saya membuktikannya pada suatu hari ketika saya mencobanya. Sebelum berangkat berjalan pada hari Sabtu beberapa bulan yang lalu, saya menimbang berat badan, lantas kembali menimbang sesudah berjalan selama satu setengah jam. Rata-rata bobot yang hilang usai berjalan satu setengah jam adalah 0,8 kg, minimal 0,6 kg, tergantung intensitas berjalan: jalan cepat atau jalan santai.

Untuk melengkapi parameter pengukuran selain bobot badan supaya saya tambah semangat, tiga minggu lalu saya memutuskan membeli alat penghitung langkah atau yang biasa disebut pedometer. Di berbagai website jual beli ada banyak tersedia jenis dan merek pedometer, namun sedari awal saya sudah punya pilihan.


Pilihan teman untuk menemani saya melangkah itu adalah Xiaomi Mi Band 2. Meskipun Mi Band 3; pedometer dari Xiaomi yang lebih gres sudah dirilis, saya tetap memutuskan memilih Mi Band 2 simply karena harga Mi Band 2 kini sudah cukup terjangkau: 300ribuan; sebelumnya berkisar antara 350-400ribuan. Adapun Mi Band 3 saya pindai dari website jual beli masih di atas 500ribu, rata-rata 550ribu.

Selain alasan harga, saya rasa Mi Band 2 sudah teruji durabilitasnya karena sebagian besar orang-orang di pabrik menggunakan pedometer merek & tipe ini. Kabar miring yang saya dengar paling-paling pada bagian karet yang menurut pengalaman mereka perlahan melonggar setelah pemakaian lebih dari setahun.

Terutama jika sering terkena air, semisal saat kita berwudu. Namun bagi saya hal itu bukan hal yang perlu dirisaukan karena kini sudah banyak tersedia spare band tersebut di tokopedia atau bukalapak dengan dimensi yang sama dan harga yang tidak terlalu mahal.

Unboxing Mi Band 2 Indonesia



Dikemas dalam kotak putih super minimalis, Xiaomi Mi Band 2 yang saya beli terdiri dari band atau gelang elastis, pedometer, serta pengisi daya. Dilengkapi pula dengan panduan penggunaan namun berbahasa Mandarin. Perihal garansi, sampai saat ini saya belum tahu pasti apakah Mi Band 2 menyediakan garansi pasca jual atau tidak.





Kinerja baterai Mi Band 2 cukup dapat diterima. Dengan satu periode pengisian daya, pedometer Mi Band 2 diklaim sanggup bertahan selama 30 hari. Sampai sore ini, setelah penggunaan sekitar 24 hari, Mi Band 2 yang saya punya baru sekali diisi daya yaitu pada tak lama setelah saya menerima paket tersebut dari kurir tiga minggu silam. Rencananya mau saya charge untuk kedua kali nanti malam.


Selain fitur penghitung langkah, layar Mi Band 2 dapat menampilkan penunjuk waktu berupa jam digital, serta pengukur detak jantung (heart rate). Memang, fitur yang disajikan Mi Band 2 terbilang irit; tidak ada pengukur tensi, penghitung gowesan sepeda, notifikasi real time Whatsapp, pengukur kadar lemak dan fitur-fitur lain yang dibanggakan oleh smartwatch beken macam Apple Watch atau Samsung Gear.

Namun kesederhanaan ini cukup dapat saya terima. Sebab yang saya lihat, ada orang yang punya smartwatch Garmin, ternyata ukurannya cukup besar dengan bentuk yang bulat, selayaknya jam tangan konvensional. Begitupun dengan Samsung Gear, dengan bentuk perseginya, saya anggap terlalu besar untuk dipakai dari mulai bangun tidur sampai menjelang tidur kembali pada malam hari, terlebih untuk selalu dikenakan ketika berolahraga.

Dengan keringkasan bentuk serta bobot yang ringan, Mi Band 2 saya rasa ideal untuk dipakai sehari-hari karena kita seperti mengenakan gelang Power Balance yang dulu sempat hype itu. Kala digunakan tidak membatasi pergerakan saat saya melakukan rutinitas sehari-hari.




Kekurangan dari Mi Band 2 ini, ketika mengendarai motor saya agak kesulitan untuk dapat mengetahui pukul berapa yang ditampilkan layar. Layar pedometer ini tidak otomatis menyala cukup dengan mengangkat punggung tangan. Untuk dapat melihat jam, jumlah langkah, dan heart rate, saya harus menyentuh pad berbentuk bulat yang terletak di bagian bawah Mi Band 2. 

Dengan fitur yang dapat diandalkan serta harga yang terjangkau, performa Mi Band 2 cukup melampaui eksepektasi saya. Ke depannya pedometer ini akan selalu menemani ke mana pun saya melangkahkan kaki setiap hari demi hidup yang lebih sehat, demi hidup yang lebih baik.[]

6 comments:

  1. Semangaaat !
    Efek pake penghitung langkah jadi lebih semangat olahraganya & membuahkan hasil ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekalih, jadi makin semangat karena progresnya bisa diukur tiap hari :D

      Delete
  2. hai kang cepy.. review yang bagus. di atas 100 kg? wow pisan.. saya aja cm 60 kg haha.. merasa kurus banget dan saya ingin menaikkan berat badan ke minimal 80 kg hehe.. yap terkadang saya malas berolahraga.. olahraga saya adalah beres-beres di rumah dan melakukan berbagai macam pekerjaan rumah hitung-hitung bantu istri yang lagi hamil 7 bulan :) semangat kang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul kang.. setelah nikah, entah kenapa susah banget nurunin dari tiga digit nih. dalam percobaan diet setahun ini, selalu mentok di 102, abis itu naek lagi lebih banyak.

      Delete

Powered by Blogger.