Sarapan Jelang Makan Siang di Rumah Makan Khas Sunda Husanah, Karadenan



Urusan mau makan di mana hari ini terkadang menjadi pengambilan keputusan yang sama lamanya dengan memutuskan mau pakai baju apa hari ini. Padahal, masih banyak keputusan krusial lain yang perlu kita intimi ketimbang memilih baju yang paling pantas atau mencari tempat makan paling enak.



Mungkin itulah kenapa setiap Sabtu dan Minggu pagi saya sering melihat mobil-mobil yang menurut saya butuh dicicil dengan penghasilan lebih dari 15juta setiap bulannya di sebuah Rumah Makan sederhana di Karadenan. Fortuner, Pajero Sport, hingga Camry sudah menjadi pemandangan lazim yang hiasi pelataran parkir Rumah Makan khas Sunda yang saya coba ulas kali ini. Urusan sarapan bagi Middle Class, mungkin, memang tak usah neko-neko, cari yang terdekat saja.

Rumah Makan Khas Sunda di Karadenan itu bernama Husanah. Saya sering menengok rumah makan yang dinaungi bangunan bergaya tempo dulu itu selalu ramai saat saya sedang melintas jalan pagi, pengunjung bergantian datang dan pergi.

Saya menceritakan perihal warung makan itu kepada istri. Saya mengaku penasaran sama rumah makan sunda yang letaknya tepat di seberang gerbang perumahan Acropolis, Karadenan tersebut. Kemudian istri bilang, kita jajal aja entar sepulang anak imunisasi?



Beberapa pekan lalu akhirnya saya melunaskan kepenasaran pada Rumah Makan Husanah, Karadenan. Waktu itu di dalam belum terlalu ramai karena kami datang bukan pukul 8 pagi, dan jam 12 siang sebagai jam makan siang masih dua jam lagi.





Begitu masuk, saya langsung melongok jejeran aneka lauk pauk di meja etalase yang dijaga oleh tiga orang pelayan perempuan. Kepada mereka, saya meminta izin untuk memotret menu-menu yang terhidang di sana: semur jengkol, tumis paria (pare), capcay, sambal goreng kentang, tempe oreg, dan aneka lauk seperti ikan mas goreng & pesmol, tongkol, ayam goreng & bakar, aneka jeroan dan masih banyak lagi lauk lain yang menggugah selera.



Sistem alur makan di rumah makan Husanah Karadenan itu adalah prasmanan. Kita dibolehkan menciduk, menjumput, mencapit lauk-pauk yang menggoda kita sejak pandangan pertama. Seperti biasa, saya memilih ayam bakar sebagai lauk utama makan menjelang siang hari itu. Selain ayam bakar plus irisan cabe rawit seabreg (supaya lebih instagramable sih ceritanya, padahal...), saya menciduk menu kesukaan saya di warung makan khas Sunda yakni karedok.



Sebagai pemilik lidah Sunda yang gagal karena gak doyan ikan asin sepat, asin jambal, sayur asem, dan semur jengkol, saya berusaha untuk membandingkan rasa ayam bakar dan karedok di sini dengan di warung makan Sunda yang pernah saya coba selama ini. Ternyata rasanya unik. Saya rasa, kemiri adalah rempah yang cukup mendominasi di sini karena ayam bakarnya gurih alias "pelem", pun karedoknya yang proporsi bumbu kacangnya pas; tidak terlalu manis atau asin.



Perihal sambal, sebetulnya saya cukup underestimate karena melihat tampilan sambal yang tersedia di sini cenderung butek. Tidak merah menggugah selera atau jingga ala sambal bawang. Sambalnya berwarna kecokelatan. Mungkin lantaran takaran terasinya cukup banyak, atau proporsi tomat lebih banyak ketimbang cabe.

Namun kebutekan warna sambal di Rumah Makan Husanah ternyata cuma soal penampilan, karena rasanya mantap. Parameter sambal enak bagi saya salah satunya adalah membuat saya ingin nambah nasi lagi. Sebetulnya si sambal kalah pedas sama irisan cabe dari ayam bakar yang saya ciduk kebanyakan tadi. Alhasil saya kepedasan walaupun sebagian besar cabe sudah saya sisihkan ke pinggir piring.


Menu yang gagal saya jajal adalah ulukutek leunca sebab telanjur kekenyangan. Menu yang menggunakan oncom Bogor dari ampas tahu itu biasanya menciptakan cita rasa tersendiri dibandingkan oncom Bandung yang merupakan fermentasi kacang tanah.



Kita bebas nambah nasi jika merasa belum kenyang. Saya sendiri nambah nasi satu cukil karena sepotong ayam bakar yang tergolong besar itu masih sisa setengah. Istri juga nambah nasi dan mencomot beberapa lauk untuk kedua kali.

Selewat pukul 11 jelang jam makan siang, pengunjung semakin banyak berdatangan. Seluruh meja nyaris semua terisi. Namun tidak usah khawatir bakal kegerahan, lantaran kipas angin selalu berkesiur dan sirkulasi udara di dalam ruangan pun cukup baik berkat banyaknya jendela.



Ayam bakar, karedok, tahu isi, sambal goreng kentang, 3 lauk lain yang istri pesan, dan es jeruk cukup kami tebus Rp60.000. Memang cenderung sedikit mahal dibanding warung makan khas Sunda sejenis, namun saya pikir rasa makanan yang tersedia di sini sudah melampaui ekspektasi.

Saya rekomendasikan Rumah Makan Husanah sebagai tempat singgah untuk sarapan, karena saya rasa pagi-pagi semua lauknya masih hangat dan fresh dari penggorengan. Tempat enak untuk makan dengan harga yang terjangkau di Cibinong dan Karadenan ini pun konon menjadi tempat favorit makan siang para pegawai Pemda, karena lokasinya yang hanya berjarak 5 kilometer dari kawasan Pemda Kabupaten Bogor.[]

Buka mulai pukul 07.00 - 16.00 (Senin-Minggu)
Jalan Raya Pemda RT 005/RW 10 Kel. Karadenan, Kec. Cibinong, Kab. Bogor 16913
Nomor kontak: 0812-8026-1562

2 comments:

Powered by Blogger.