Sebetulnya 5 daftar barang yang biasa ada di dalam tas masing-masing orang termasuk saya semestinya bersifat rahasia. Siapa yang tahu dan siapa yang mau bantu kalau ada copet-copet angkot & copet-copet KRL yang membaca blog ini?

Tapi baiklah, gak apa-apa. Kita bedah saja beberapa barang yang tidak terlalu rahasia yang biasanya menghuni ransel saya setiap hari.

Tumbler

 


Air adalah sumber kehidupan.
Dan saya penganut paham tersebut. Saya sempat beberapa kali menderita penyakit susah kencing alias anyang-anyangan. Sangat menyiksa karena gak bisa tidur semalaman. Gimana bisa tidur kalau yang kandung kemih kita kehendaki adalah meneteskan air seni sedikit-sedikit, tidak sekaligus sebagaimana kondisi normal.

Maka yang saya lakukan dulu adalah menaruh kursi jongkok alias jojodog di kamar mandi, habis itu ya sudah, duduk manis di jojodog, merem melek aja semalaman di dalam kamar mandi sambil meneteskan air kencing setetes-setetes, bersabar menunggu pagi tiba untuk dapat pergi berobat ke dokter umum.

Penderitaan anyang-anyangan yang saya alami dulu membuat saya disiplin membawa air minum ke mana pun saya pergi. Medianya tentu saja adalah tumbler merek Tupperware jenis apa pun, warna apa pun. Mau warnanya pink atau ungu (warna yang saya benci) sekalipun, bodo amat kalau emang yang tersedia tinggal warna itu. Yang penting saya gak dehidrasi dan enggak anyang-anyangan lagi.

Saya memilih merek Tupperware karena kapok sempat beberapa kali mencoba menggunakan tumbler merek lain yang bisa jadi lebih mahal dibanding Tupperware, namun ketika sampai tujuan saya cek selalu ada kebocoran pada bagian tutup sehingga ransel saya yang sering tersimpan pula buku dan kertas pun basah kuyup.

Earphone

 



Saya selalu membawa earphone ke mana pun saya pergi. Dalam perjalanan jauh ke luar kota biasanya saya suka mendengarkan musik & podcast untuk membunuh waktu tempuh menuju tujuan yang cukup lama untuk sekadar dihabiskan dengan tidur sepanjang perjalanan.

Sesekali di kantor ketika saya sedang mengerjakan pekerjaan bersifat clerical yang bersifat rutin yang gak bikin otak mikir keras, saya suka bekerja sembari mendengarkan musik guna menghalau kantuk pada jam-jam rawan misalnya after lunch.

Terlebih enam bulan belakangan di mana saya tengah ketagihan mendengarkan podcast dari Soundcloud, Anchor, Spotify, hingga platform podcast lokal berkualitas dari Inspigo. Sehingga bukan cuma mati gaya kalau earphone ketinggalan, saya pun bakal ketinggalan kesempatan untuk menambah asupan inspirasi.

Ballpoint

 



Alat tulis yang maha wajib tersimpan dalam ransel saya setiap hari. Peran ballpoint bakalan sangat berguna ketika saya pergi mengurus tetek bengek administrasi di instansi-instansi pemerintahan seperti mengurus perpanjangan SIM ke Polres, memperpanjang pajak tahunan & 5 tahunan sepeda motor ke Samsat, hingga memperbaharui data kependudukan ke Disdukcapil.

Karena seperti kita ketahui jumlah ballpoint yang disediakan di instansi pemerintahan mungkin 1 berbanding 100. Emang mau waktu kita terbuang lebih lama dari seharusnya cuman karena menunggu giliran pakai pulpen sama orang-orang?

Selain sebagai alat tulis, ballpoint pun kadang berguna untuk mencongkel baterai, penghias saku kemeja, hingga pengganjal jendela yang penyangganya mendadak patah. Sungguh mulia peran ballpoint.

Kantong Plastik alias Kresek & Goodie Bag

 



Perangkat pendukung barang elektronik seperti charger handphone, charger laptop, hingga flashdisk sangat sensitif saat berkontak dengan air, apalagi jika berkualitas di bawah standar. Maka dari itu, sebagai pengendara motor yang kalau hujan ya sudah pasrah kehujanan, saya memerlukan alat proteksi berupa kresek.

Pernah kabel USB saya kebasahan dan begitu sampai rumah saya coba dan colok ke handphone dan koneksikan ke laptop, tak ada respons sama sekali. Nyesel banget waktu itu karena cuman gara-gara air, aksesoris elektronik yang lumayan penting sebagai penyalur data dari handphone ke PC tersebut terpaksa kehilangan fungsinya.

Adapun goodie bag saya bawa tiap hari karena kerap berguna untuk membawa sisa camilan di kantor, oleh-oleh dari orangtua, dan berperan vital ketika saya mendadak harus membawa suatu barang yang gak muat dimasukin ke dalam ransel.

Obat Maag

 



Adalah penghuni ransel saya yang menentukan hidup dan mati. Sejak STM maag saya suka kambuhan; asam lambung naik sesaat setelah mengonsumsi makanan & minuman pemicu lambung, salah satunya soda. Setiap maag kambuh, perut rasanya bagai diperas sekecil-kecilnya namun air perasan sama sekali tidak terperas.

Solusi paling ampuh tentu saja obat antasida yang dapat dengan cepat menetralkan asam lambung di dalam perut saya. Sebab kalau dibiarkan, mungkin saya bisa pingsan menahan mual dan perih sepanjang hari di kantor maupun saat dalam perjalanan.[]

Sumber foto: Pexels.com