Apakah benar media sosial itu seperti anggapan orang: bikin candu, meracuni pikiran, dan bikin sakit jiwa?
Saya pernah mengalami kecanduan media sosial sangat akut. Bangun tidur, benda yang saya cari pertama kali bukanlah air wudu, tetapi Blackberry Pearl. Kemudian langsung tersadar bahwa linimasa semalam belum habis dibaca.

Scroll-scroll touchpad BB menjelajahi sisa linimasa Twitter semalam, tiap saat refresh feed BBM yang entah mengapa, Recent Updates dari setiap orang itu selalu bikin saya penasaran padahal belum tentu juga penting untuk saya.

Itu terjadi pada 2012, saya masih pakai BB dengan paket Full BIS yang susah payah saya langgani tiap bulan. Walaupun saya pikir kembali sekarang, ternyata mahal juga saya rela mengeluarkan 150ribu cuma untuk paket Blackberry yang gak bisa ditethering ke PC/laptop; internet cuma dapat diakses melalui handset Blackberry itu sendiri.

Begitu saya menggunakan Android, hal itu tak terjadi. Saya tidak terlalu kecanduan membuka BBM (yang sudah saya uninstall 4 tahun lalu), linimasa Twitter, dan mungkin saat ini konteksnya adalah IG Stories atau Whatsapp Status.

Setidaknya, tak separah dulu.

Kenapa Gadget Android Tidak Begitu Nyaman Digunakan Berlama-lama untuk Bermedia Sosial




Saya coba cari 3 alasan mengapa experience dalam memegang handset Android tidak begitu menyihir otak saya untuk membaca, menyimak media sosial selayaknya saya mengonsumsinya dari perangkat Blackberry.

Minus Keyboard Fisik 

 



Pertama, mungkin karena gadget Android―meskipun ada beberapa tipe yang punya keyboard fisik, tetapi itu pun segmen low-end―hanya mempunyai layar sentuh dan tidak dibekali keyboard fisik.

Menurut saya, jauh lebih nyaman mengetik pakai keyboard fisik ketimbang keyboard virtual ala Android yang sering sekali menghasilkan kalimat typo, rentan kepencet tombol sentuh menuju menu back kemudian kita mesti mengetik ulang suatu konten. Jempol pun cepet kepanasan karena jari kita bersentuhan secara langsung dengan layar elektronik yang notabene mengeluarkan energi panas.

Sehingga yang kita sering lakukan adalah bukan lagi kecanduan sebagaimana halnya berinteraksi di media sosial melalui blackberry, melainkan bentuk fear of missing out. Takut ketinggalan informasi apa dari siapa pun meski informasi tersebut sesungguhnya tidak benar-benar kita serap, tidak kita baca dengan intens―sebatas skimming dan scroll informasi demi informasi lantas asal klik like atau love.

Berbeda dengan Blackberry. Saya rasakan dulu, waktu saya memang benar-benar terhabiskan dengan membaca setiap cuitan dan beberapa kultwit, menyimak setiap Recent Update di BBM dengan saksama, lantas mengetik update-an versi saya atau merespons update-an orang-orang yang saya ikuti tersebut dengan pikiran yang sadar.

Sehingga walau kecanduan, setidaknya banyak yang saya serap dari sana. Meski belum tentu juga yang diserap pada masa itu dapat bermanfaat secara langsung dalam kehidupan saya.

Dimensi Gadget yang Makin Lebar

 



Alasan kedua, mungkin layar gadget yang kian hari makin lebar saja. Konsekuensi dari ukuran handset yang kian panjang dan lebar ini tentu mengurangi kenyamanan saya dalam mengakses media sosial secara intens.

Malahan, ukuran layar yang lebar ini hanya membuat kita nyaman untuk melakukan kegiatan lain semacam menonton video, main game, dan kegiatan lain yang mengharuskan kita menggunakan kesepuluh jari dan memposisikan gadget dalam keadaan horizontal; hal ini berkaitan dengan alasan ketiga.

Perangkat Tepat untuk Berpaling dari Televisi ke Youtube, Netflix & Platform Video Streaming Lain

 



Ya, alasan ketiga adalah Youtube!

Seiring makin populernya Youtube, terutama dipengaruhi kebijakan Provider internet prabayar yang menyediakan paket internet dengan sengaja membagi-baginya ke dalam paket reguler dan paket Youtube secara terpisah, membuat semua orang dari berbagai strata sama-sama kecanduan oleh platform melenakan tersebut.

Saya kurang setuju dengan orang-orang yang menganggap bahwa pada masa kini kita sudah tergolong akut dalam mengakses media sosial. Karena saya pikir, media sosial esensinya adalah menghubungkan kita dengan orang lain melalui interaksi yang relevan.

Adapun yang kebanyakan netizen Indonesia kini lakukan adalah menonton sekilas video di platform Youtube maupun Instagram. Kemudian menyampah-nyampahi konten tersebut dengan komentar-komentar sok lucu dan komentar-komentar kontroversial yang bikin kita semua yang baca terasa dikompori.

Yang terjadi selanjutnya, kita ramai-ramai membalas komentar yang terkadang tidak relevan dengan suatu konten sehingga komentar negatif itu justru yang muncul paling atas. Itu bukanlah bersosial, melainkan ngegebukin maling ayam rame-rame.

Masihkah Media Sosial Bikin Kita Kecanduan?


Menurut saya gadget Android bukan tempat paling nyaman untuk bermedia sosial, setidaknya tidak senyaman user experience yang disuguhkan Blackberry hampir sepuluh tahun lalu. Di sisi lain, gadget Android berhasil memendekkan akal sehat kita untuk terus mengomentari konten-konten kontroversial secara membabibuta dan esensi media sosial pun melamur; berubah menjadi pengadilan moral online.

Perangkat Android kini justru berhasil menggantikan fungsi televisi konvensional dengan menawarkan jutaan konten audio visual yang jauh lebih menarik, lebih variatif, lebih sensasional, dan jauh berpotensi bikin kita lupa waktu dikarenakan sifatnya yang on-demand, dapat diakses kapan saja di mana saja; tidak based on schedule sebagaimana stasiun televisi.
Dengan demikian, apakah kita benar-benar sudah gawat kecanduan bermedia sosial?
Bukan, kita tidak sedang menggandrungi media sosial. Masa-masa keemasan media sosial sebenarnya sudah lewat delapan tahun silam. Sekarang kita hanya tengah candu-candunya menghakimi orang lain yang tidak kita kenal pada seperangkat televisi termutakhir bernama Youtube.[]

Sumber foto: Pexels.com