Barang Koleksi yang Saya Sukai Sekaligus Saya Benci



Ngomong-ngomong tentang barang apa yang dikoleksi di rumah, saya menemukan barang koleksi yang saya sukai sekaligus saya benci. Dia bernama: buku.

Di rumah, bertumpuk buku-buku yang mulai serius saya koleksi sejak 2012. Selama empat tahun berikutnya, di samping sebatas mengoleksi, saya memang masih suka membacanya. Paling lambat dalam seminggu saya selesaikan satu buku. Tidak pernah lebih dari seminggu karena saya suka.

Lantas kenapa saya sekaligus membencinya?


Karena selama 2018 saya membeli beberapa buku, hampir semua buku yang saya beli hanya menjadi barang koleksi di rak. Sekadar dikoleksi. Buku itu tidak berfungsi sebagaimana fungsi utamanya yaitu untuk dibaca oleh saya sebagai yang membeli. Bahkan ada beberapa buku yang masih utuh berselimutkan plastik.

Dan lagi-lagi keterbatasan waktu luang yang saya tuding sebagai alasan menurunnya minat baca saya.

Buku macam apa yang saya koleksi?


Tanpa perlu saya cek satu per satu, saya sudah menyimpulkan genre apa yang mendominasi koleksi buku saya: fiksi. Saya pernah sangat menyukai fiksi, namun ternyata fiksi sangat sulit untuk ditulis. Tak semudah kita membacanya. Bahkan menurut saya, lebih mudah untuk merangkai tulisan-tulisan ilmiah. Karena tulisan ilmiah hanya punya satu objektif: benar.

Tidak begitu dengan tulisan-tulisan fiksi yang banyak sekali objektifnya: indah, berbobot, meskipun fiksi tapi tetap based on data, enggak mainstream, sastrawi, dan mewakili zamannya. Oh ya satu lagi: menjual. Kalau gak menjual, misal pun diterbitkan, nasibnya paling-paling berakhir di rak bargaining books.

Kembali ke barang koleksi yang saya sukai sekaligus saya benci.

Bagaimanapun, diri saya yang sekarang sedikit banyaknya dibentuk oleh buku-buku yang bertumpuk di rak ini. Membaca, mungkin seperti berlari marathon, yang tidak usah dilakukan secara tergesa-gesa. Cukup untuk dinikmati, dirasakan lelahnya, berhenti sejenak jika sudah dirasa terlalu lelah, lanjut berlari jika semangat telah kembali.

Ke depannya, saya masih belum terbayang, apakah buku fisik akan terus dikoleksi oleh para pencinta buku?


Siapa yang masih membaca koran setiap pagi? Kakek? Ayah?

Saya sendiri terakhir kali menyentuh koran beberapa pekan lalu. Itu pun bukan untuk dibaca, melainkan koran tahun 2017 yang dipakai sebagai pembungkus kado. Dan saya curiga, jangan-jangan nasib buku pun pada akhirnya bakal sama seperti koran; beralih fungsi menjadi medium digital.

Siapa yang di tahun 2019 masih mau mengoleksi buku fisik?


Saya sendiri, mengoleksi buku secara fisik mungkin akan masih dilakukan. Tapi itu hal yang mudah, bukan? Yang jauh lebih menantang adalah, buku sebagai barang yang saya koleksi itu saya baca dan selesaikan satu per satu seperti dulu saat saya benar-benar mencintai buku. Sebab mencintai adalah kata kerja, bukan sekadar kata benda sebagaimana barang-barang yang dikoleksi.[]

Sumber foto: Pexels.com

No comments:

Powered by Blogger.