Sebagai orang yang hidup bukan di perkotaan namun terkontaminasi sejak kecil oleh kotak ajaib bernama televisi, saya pernah bermimpi untuk hidup di negara-negara yang menurut saya dulu keren sekali untuk dapat saya huni sampai saya menutup mata nanti.

Jepang




Jepang adalah negara ajaib yang sampai sekarang masih bikin saya penasaran mengapa mereka seajaib itu. Modernintas dapat berdampingan dengan tradisionalitas. Misal, sebagian mereka masih rutin mengendarai sepeda padahal mereka adalah produsen otomotif dengan rantai bisnis paling sustain dalam rentang 40 tahun terakhir di seluruh dunia.

Tak dapat dimungkiri, saya mengenal Jepang melalui kartun-kartun yang saya tonton tiap Minggu pagi. Terlebih Doraemon yang sangat detail dalam menggambarkan bagaimana keseharian anak-anak Jepang.

Saya penasaran dengan budaya keteraturan di sana seperti budaya mengantre, memelihara suatu benda sampai-sampai memperlakukan benda selayaknya makhluk hidup, dan budaya yang kontras seperti budaya kerja keras sampai larut malam, namun pulangnya mabuk mabukan ditemani geisha, dan ajaibnya esok pagi mereka datang ke kantor tepat waktu dengan wajah yang segar dan siap kembali bekerja keras sampai larut malam.

Kepenasaran saya terhadap Jepang semakin parah setelah membaca beberapa buku Haruki Murakami, Natsume Soseki, dan beberapa pengarang Jepang lain. Secara kontras, kebersahajaan cerita yang mereka usung sukses memengaruhi siapa pun yang membaca untuk tenggelam dalam kedalaman makna; lebih dalam ketimbang kata-kata melangit yang sering menjadi janji-janji kampanye di negara saya.

Jerman




Ketertarikan saya pada negara Jerman bermula dari Pak Habibie yang sejak masa mudanya bersekolah di sana. Pendek kata, saya ingin pinter dan berguna bagi nusa dan bangsa seperti Pak Habibie, sehingga saya harus mengikuti jejaknya bersekolah di Jerman.

Namun ketika sudah dewasa, saya tahu diri bahwa gak semudah itu untuk dapat menambang ilmu di sana. Perlu otak yang super plus debt rekening yang tak berhenti mengalir deras sepanjang tahun untuk menggapainya.

Kini saya cukup berangan-angan dapat ke sana sekali seumur hidup. Bagi sebagian besar orang mungkin menganggap Jerman sebagai negara yang membosankan, namun bagi saya Jerman adalah negara yang tetap tumbuh dan saya pelihara sebagai harapan masa kecil saya.

Amerika Serikat




Siapa sih orang yang sama sekali gak kepikiran pengin ke Amerika Serikat?

Dikenal sebagai negara maju berkat amunisi budaya pop yang doktrinnya mengakar melintas generasi masyarakat dunia, Amerika Serikat adalah negara yang lihai dalam perkara mengemas sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi berkelas dan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dari selazimnya.

Semisal pertandingan bola basket NBA, tanpa mereka mungkin olahraga basket hanyalah olahraga membosankan yang kebanyakan aturan. Oleh mereka, basket menjadi sebuah industri yang sustain sampai sekarang. Tak henti melahirkan talenta-taleta basket terbaik yang melekat di benak penggemar NBA pada setiap eranya.

Atau brand Nike yang dari tahun 80an menjual produk sepatu dengan logo super simpel dan desain sepatu yang sama simpelnya bahkan menurut beberapa orang cenderung monoton, secara magis mampu merasuk ke alam bawah sadar saya sebagai produk yang keren untuk dimiliki.

Begitupun dengan Starbucks yang sudah melekat sebagai gaya hidup warga urban bahkan sudah lazim digunakan sebagai meeting point terkait urusan profesional.

Amerika Serikat, saya yakin, kalau dikasih tantangan untuk menjual barang semurah singkong, akan mereka kemas sekeren-kerennya, dan jadilah produk franchise menu singkong yang sudah dimodifikasi dengan cita rasa Barat yang sepisinnya mesti ditebus seharga 50ribu.

Atau mereka malah bikin produk sepatu dengan bahan serat singkong lantas dikasih embel-embel Eco Friendly? Pasti laku keras.[]

Sumber foto: Pexels.com