Kebahagiaan menurut saya sangat bergantung dengan perspektif. Makan ayam krispi di KFC, bagi beberapa orang yang tergolong kelas menengah mungkin hal yang biasa.

Namun menurut anak sekolah zaman dulu yang rajin menyisihkan uang jajannya setiap hari kemudian setelah terkumpul baru dia bisa makan KFC, mungkin dia menganggapnya sebagai bentuk kebahagiaan lantaran dia memperolehnya dengan perjuangan.

Lalu, apa itu kebahagiaan? Buah dari lelahnya perjuangan?


Saya sendiri masih mempertanyakan apa sebenarnya yang bisa membuat saya bahagia. Apakah kebahagiaan dapat diformulasikan sehingga apabila kita butuh, tinggal kita rencanakan, kita kelola, dan kita eksekusi?

1. Bangun tidur tanpa rasa pusing dan cuaca pagi itu tidak hujan


Terbangun oleh alarm pada Senin pagi lebih nikmat ketimbang terbangun oleh deras hujan. Hari Senin saja sudah malas, apalagi ditambah hujan?

Apa yang akan terjadi jika Senin hujan?

Macet, karena orang-orang yang biasa berangkat pukul 6, mencoba menunggu hujan agak reda. Dan puncaknya, apabila hujan reda tepat pada setengah 7 pagi yang merupakan jam biasanya saya berangkat, mereka serempak melanjutkan perjalanan sehingga terjadi penumpukan volume kendaraan pada waktu bersamaan.

Sampai kantor mood pun hancur berantakan. Ditambah baju yang basah kalau gak bawa baju ganti, dan kepala pening lantaran kerembesan hujan dari kaca helm.

Sehingga saya rasa bangun tepat waktu pada pagi yang cerah adalah sebuah kebahagiaan.

2. Lalu lintas lancar jaya


Selain cuaca, lalu lintas jalanan pun dapat menimbulkan kebahagiaan hakiki apabila lancar jaya.

Tidak ada antrean truk yang terlambat mendistribusikan barang, tidak ada angkot yang ngetem, tidak ada yang saling mendahului di persimpangan jalan.

Menurut saya lalu lintas yang paling lancar terjadi jika tiba masa liburan sekolah dan bulan Ramadan di mana jam sekolah yang dikurangi pada bulan puasa tersebut pula yang membuat lalu lintas lebih lancar ketimbang hari biasa.

Kesimpulannya, menuntut ilmu itu bikin macet?

3. Celana masih nyaman dipake


Kebahagiaan ini akan terasa usai mengambil cuti seminggu, misal cuti lebaran, kemudian mengenakan celana kerja dan rasanya masih seplong sebelum cuti.

Nafsu makan yang gagal dikontrol pasca liburan atau lebaran, kerap kali bikin perut makin lebar, gak hanya perut, paha dan pantat juga kian bohai. Alhasil pas masuk kerja atau masuk sekolah, pake celana yang biasanya muat-muat aja tiba-tiba jadi pengap. Dunia makin terasa sempit.

4. Sinyal internet gak putus-putus


Lancarnya sinyal internet bikin otak rileks yang otomatis menimbulkan kebahagiaan. Kalau sinyal internet tersendat-sendat bahkan bertanda silang, saya pasti misuh-misuh sebab sudah bayar kuota rutin tiap bulan kok dibalas oleh korporasi telko dengan layanan seadanya.

Kita beli seliter bensin yang merupakan limited resources aja mustahil baru jalan 2-3 kilometer motor tiba-tiba mati lantaran bensin menguap begitu saja.

5. Pulang kerja disambut anak istri


Dulu pas masih bujangan, sepulang kerja pasti mendapati lampu teras yang gelap dan tirai rumah yang masih tersingkap dari pagi. Suara yang terdengar sepanjang malam hanya dengkuran kulkas yang sesekali bergetar. Sepi.

Tapi pas udah nikah dan punya anak, segenap penat, lelah, jengkel, resah, sejenak berubah menjadi rasa bahagia ketika masuk rumah disambut teriakan anak yang lagi seneng ngoceh dan istri yang langsung bikinin secangkir kopi.[]

Sumber gambar: Pexels.com