Mengapa Keterbatasan Justru Membuat Orang Menjadi Kreatif?



Saya sering sekali berandai-andai mempunyai uang yang banyak supaya saya bisa bebas mengaktualisasikan apa pun yang saya inginkan. Unlimited resource.

Karena kalau punya uang yang banyak, saya gak bakalan ngabisin waktu buat baca plus nonton review gadget di internet sebelum memutuskan semisal untuk membeli handphone kisaran 2-2,5 jutaan yang sesuai budget, sesuai kebutuhan.

Tapi apakah betul kalau uang yang saya pegang tak terbatas, akan membuat saya bebas menggapai apa pun yang saya inginkan sebagai bentuk aktualisasi diri yang merupakan salah satu kebutuhan setiap manusia?

Keberlimpahan terkadang membuat seseorang yang belum siap dengannya justru menjadi kebingungan


Semacam culture shock.

Sekitar lima tahun yang lalu saya dikasih uang sama orangtua yang terbilang lumayan dalam ukuran anak kuliahan. Bukannya senang yang saya rasakan, justru perasaan bingung.

Bingung uangnya mau diapain. Kalau saya jadiin modal usaha, takut ditipu, takut rugi, takut gak balik modal. Dibeliin kendaraan, gak rela kalau nantinya bakal terkena depresiasi. Mau dipake dana haji, kok rasanya saya masih terlalu muda, ya, pikir saya waktu itu.

Hanya perasaan takut yang melanda saya waktu itu, padahal logikanya, siapa sih orang yang gak seneng kalau dikasih uang secara cuma-cuma?

Pada akhirnya uang itu saya beliin emas beberapa puluh gram. Sisanya beli motor, kemudian sisanya yang sebenarnya masih terbilang lumayan banyak, secepat kilat langsung habis dipake buat jajan ke mal tiap akhir pekan.

Lihat, otak saya malah jadi buntu saat dihadapkan dengan sebuah situasi berkelimpahan menurut ukuran saya. Saya menjadi tidak sekreatif sebagaimana saya gak punya uang.

Kalau dipikir lagi sekarang, kenapa tuh uang gak dipake buat membeli barang-barang yang saya butuhkan untuk mengaktualisasikan diri?

Misalnya beli kamera full frame dan laptop Macbook untuk menunjang minat saya pada dunia blog, fotografi dan desain grafis, yang bukan tidak mungkin dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mendatangkan penghasilan?

Jawabannya mungkin, karena saya kurang pengalaman dalam menghadapi kegagalan.

Saya kebanyakan takut untuk memulai sesuatu karena selama ini saya merasa saya selalu berhasil, dan harus selalu berhasil. Menganggap hal yang belum pasti di depan; masih mengawang-awang gak jelas pada masa mendatang itu tidak layak untuk diperjuangkan.


The power of kepepet


Seperti yang kita rasakan sama-sama, keadaan mempunyai uang atau income yang cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari bahkan hingga setahun ke depan, adalah kebalikan dari situasi kepepet atau keterpaksaan.

The power of kepepet ini pernah saya rasakan saat menjadi pengangguran tanpa ijazah beberapa tahun lalu. Kalau hari ini gak berbuat sesuatu, besok saya gak makan.

Sebab tabungan yang tinggal beberapa digit di rekening itu kian menipis dipakai kebutuhan sehari-hari. Saya merasa harus melakukan sesuatu.

Mulailah saya jualan mobil-mobilan die cast secara online, terutama yang bermerek Hot Wheels. Hasilnya lumayan, sehari paling tidak, ada satu orang yang beli. Walaupun begitu, labanya masih gak cukup buat makan saya sebulan.

Kemudian saya ngulik lagi, bagaimana supaya biaya makan saya bisa berkurang separuhnya dari budget yang biasa saya habiskan?

Masak sendiri.

Berkekal buku masak dari ibu saya maupun dari situs cookpad, setiap hari saya turut bergumul bersama ibu-ibu berdaster untuk berbelanja sayur dan lauk pauk ke warung.

Percobaan memasak pertama: overcooked.

Besoknya saya coba lagi menu yang sama dengan cara berbeda, hasilnya agak mendingan. Cuman kurang garam dan rempah yang memang saya skip lantaran malas beli.

Demikianlah, setiap hari saya memasak. Dari yang semula tidak bisa memasak.

Bagaimana kalau saya tidak dihadapkan situasi seperti itu, apakah saya akan bisa memasak?

Dengan cepat saya katakan tidak. Karena ya, kalau ada duit, laper ya tinggal beli aja via GO-Food, ribet amat, begitu, kan?

Memasak sebagai solusi mengurangi biaya operasional sehari-hari sudah dijalani, setiap hari pun saya terus melayangkan lamaran pekerjaan via internet. Dan akhirnya saya diterima bekerja di Bandung.

Dengan scope pekerjaan yang jauh dari background keilmuan saya. Namun sekali lagi, karena the power of kepepet, saya ambil aja pekerjaan ini dan yang timbul adalah rasa syukur. Lantaran yang bergumul di otak saat itu, emang ada lagi orang yang mau menerima lulusan tak berijazah macam saya?

Meskipun setiap harinya saya harus menempuh perjalanan minimal 2 jam dari rumah orangtua, dan menghabiskan waktu 3 jam ketika pulang setengah hari setiap hari Sabtu, saya jalan terus.

Pekerjaan yang semula tampak asing bagi saya tersebut, justru yang mengubah saya menjadi seperti sekarang.

Apakah semua orang yang hidup di bawah keterbatasan dengan serta merta menjadi orang yang kreatif?


Belum tentu. Semua kembali berpulang kepada masing-masing individu.

Seseorang yang sedari lahir tumbuh dari keterbatasan, pola pikirnya pasti terperangkap pula dalam keterbatasan. Kalau tidak berbuat sesuatu dan hanya berpasrah, ya sudah, hidup kita tetap terbebat batas.

Lantas bagaimana caranya agar menjadi kreatif?

Membatasi pengeluaran berupa uang dan waktu


Cara efektif yang biasa saya pakai untuk merangsang urat-urat kreativitas muncul adalah membatasi waktu dalam melakukan sebuah pekerjaan atau kegiatan.

Deadline, yang biasa menjadi momok kita terutama saya sendiri, ternyata semacam pedal gas bagi saya untuk terus bekerja sebaik mungkin sekaligus sebagai rem pada saat saya terus saja merasa hasil pekerjaan yang telah dikerjakan, jauh dari sempurna.

Dengan membatasi waktu, saya jadi paham bahwa makna sempurna adalah irisan dari keinginan dan kemampuan.

Apakah uang pun perlu dibatasi sebagaimana waktu?

Oh, tentu saja. Dengan membatasi budget berupa uang dalam melakukan suatu hal, saya jadi tahu apa saja yang perlu saya gunakan, apa saja yang perlu saya hapus.

Yang saya suka dari pembatasan anggaran ini adalah hasil dari suatu pekerjaan gak bakalan overbudget dari segi biaya maupun underexpectation dari segi kualitas produk atau pekerjaan.

Salah satu kunci agar menjadi kreatif adalah terus memperluas horizon


Memperluas horizon. Memperluas insight. Memperluas jejaring. Yang lumayan ampuh dalam memperlebar perspektif saya dalam memandang dunia.

Sebab bukankah kreativitas adalah kemampuan memandang dunia dengan cara yang berbeda?[]

Sumber gambar: Pexels.com

No comments:

Powered by Blogger.