Membeli atau Merawat, Mana yang Lebih Gampang?


Di era yang serba mudah ini saya merasa lebih mudah untuk membeli daripada merawat. Contoh konkretnya ya hape. Hape bersistem operasi Android, kalau sudah berusia lebih dari dua tahun, performanya saya rasakan pasti mengalami penurunan.

Selain dikarenakan faktor usia, dukungan pemutakhiran aplikasi maupun software membutuhkan resource hardware yang terus meningkat. Pabrikan hape seolah memaksa siapa pun pengguna smartphone untuk rutin mengganti handset Androidnya paling tidak dua tahun sekali.

Sebab mana ada hape Android yang bisa diupgrade?


Kalaupun ada, faktor keekonomiannya enggak worth sama sekali; mending beli hape baru yang baik hardware & softwarenya udah pasti gres seiring perkembangan teknologi.

Tapi, bagaimana dengan aset lain semacam rumah? Kalau rumah terlalu muluk, bagaimana dengan sepeda motor? Apakah lebih mudah tergoda untuk membeli motor baru ketimbang merawat motor lama yang sudah kita miliki?

Dari perspektif ekonomi tentu saja orang-orang di luar sana menganjurkan kita untuk menjual motor setiap 5 tahun dan membeli yang baru sebab kendaraan tergolong aset bergerak yang mengalami depresiasi hingga mencapai 50 persen setelah 5 tahun. Selain momok depresiasi, diperparah pula dengan penurunan performa kendaraan seiring bertambahnya jumlah kilometer.

Tetapi sebagai manusia yang menggunakan hati selain logika, apakah harus mengacu perspektif ekonomi saja untuk terus membeli yang baru ketimbang merawat yang sudah ada?

*

Akhir Desember hingga Januari silam saya bolak-balik Bogor-Bandung guna mengurus perpanjangan STNK motor yang sudah berusia 5 tahun. Untuk mengganti pelat dan gosok rangka, sudah pasti saya harus mengurusnya ke Samsat asal saya di Bandung.

Setelah menjalani proses perpanjangan STNK 5 tahunan yang setiap tahun berubah-ubah dan sukses bikin kita yang udah pusing sama dinamika kehidupan ini jadi makin pusing, eh ternyata saya diharuskan untuk mutasi ke Kabupaten Bogor sesuai alamat KTP.

Lantaran plus mutasi ke luar daerah (masih satu provinsi), anggaran yang saya keluarkan nyaris 2 kali lipat lebih mahal dibanding perpanjangan 5 tahunan biasa. Secara waktu makin molor dari prediksi hingga akhir Januari, sehingga saya harus membayar denda karena telat beberapa hari dari tanggal ditetapkan 5 tahun sebelumnya. Selain itu saya pun terpaksa mengorbankan satu hari cuti dan setengah hari leave request.

Proses perjuangan yang melelahkan dan menguras waktu-waktu produktif itu membuat saya teringat suka duka bersama tunggangan saya yang telah menemani selama lima tahun terakhir. Terlalu banyak sejarahnya. Kalau ada yang mau membeli motor saya ini, dengan tegas saya mengatakan tidak, setidaknya sampai hari ini.

Beberapa pekan setelah proses-proses birokrasi yang super ribet itu, hikmahnya saya jadi rajin mencuci motor saya. Dan baru kepikiran untuk mengganti handgrip yang sudah ngelupas sana-sini, serta menambahkan box SHAD berukuran 29 liter yang lumayan memadai untuk menampung jas hujan dan sepatu safety.

Berkat "magic com" yang nangkring di ekor motor, benak saya jadi jauh lebih tenteram tak peduli cuaca apa yang bakal melanda setiap hari. Saya pun dapat bekerja lebih fokus tanpa banyak kekhawatiran tak penting semacam sepatu bakal basah atau males pake mantel seperti hari-hari sebelum punya box.

Merawat ternyata lebih sulit, tapi...


Sebagai bapak-bapak yang belum genap dua tahun menikah, saya baru nyadar, jauh lebih susah untuk merawat ketimbang membeli. Selayaknya pernikahan, sudah pasti akan timbul tantangan dan cobaan dalam merajut jalinan rumah tangga. Keresahan yang dialami setiap hari jauh lebih kompleks ketimbang kegalauan setiap malam minggu semasa jomlo.

Namun demikian, apabila saya menjalaninya segenap hati sebagaimana saya merawat motor yang sudah susah payah saya beli dan rawat selama ini, tak peduli apa yang bakal saya hadapi ke depannya, yang bakalan muncul adalah sebuah perasaan berwujud rasa syukur yang kemudian merekahkan kebahagiaan.[]

Sumber gambar: Pexels.com

No comments:

Powered by Blogger.