Selalu menyenangkan kala mengenang masa kecil. Sekeliling dunia yang saya lihat dulu seolah-olah berwarna-warni dan tidak ada sama sekali yang muram membosankan.

Setiap hari adalah bermain. Tidak ada lema tanggung jawab dalam kamus masa kecil. Dan bukan menjawab yang disenangi oleh anak kecil, melainkan bertanya.

Saya pada masa kecil adalah orang yang penuh dengan pertanyaan. Yang kadang dilontarkan namun seringkali dipendam begitu saja dan sampai sekarang banyak dari pertanyaan-pertanyaan itu belum beroleh jawaban.

Apa hal-hal yang sering saya tanyakan pada masa kecil?

Mengapa orangtua rela bekerja selama puluhan tahun sepanjang hidupnya?


Dulu saya pernah mikir sekaligus bertanya dalam hati, kenapa bapak saya rela kerja seharian tiap Senin sampai Sabtu bahkan hari Minggu pun beliau sering mampir ke kantornya di sekolah dasar?

Kenapa dia rela melakukan hal-hal repetitif yang membosankan, menenggelamkan diri dalam masalah-masalah pekerjaan hingga masalah keluarga yang mau tidak mau harus dihadapi beserta selimpah tanggung jawab?

Bukankah bagi bapak-bapak jauh lebih nikmat leyeh-leyeh di rumah, memancing di kolam galatama, atau bermain burung perkutut ketimbang bekerja sampai larut malam?

Sampai sekarang di mana saya pun sudah menjadi seorang bapak-bapak, saya belum ketemu jawaban yang paling tepat.

Bagaimana caranya menjadi orang kaya?


Parameter kaya pada masa kecil saya sebenarnya sederhana: bapaknya bisa beliin Play Station, rumahnya dua tingkat, punya garasi beserta isinya, dan tiap pagi sarapan roti plus slice keju Kraft.

Bagaimana bisa orangtua saya dan orangtua teman-teman saya tidak sama-sama disebut sebagai orang kaya? Apakah tidak semua orang berhak mendapatkan privilage menjadi orang kaya?

Jawaban yang dulu saya peroleh biasanya seputar:
  1. Makanya sekolah yang rajin biar jadi orang kaya
  2. Jadilah orang baik supaya rezekinya pun baik
  3. Hidup gak usah neko-neko
  4. Rajin menabung pangkal kaya
Hampir semua jawaban barusan sudah saya lakukan tahap demi tahap, namun status orang kaya tak kunjung datang secara tiba-tiba. Apakah jawaban dari pertanyaan ini akan selalu menjadi retorika?

Mengapa harus selalu ada perpisahan kalau kebersamaan sudah cukup menyenangkan?


Pertama kali mengalami sakitnya berpisah adalah saat teman TK harus pindah sekolah ke luar daerah lantaran bapaknya yang seorang tentara meninggal dunia. Dia dan ibunya terpaksa meninggalkan rumah dinas dan kembali ke kampung halaman sang ibu.

Pernah saya berpikir, bukankah tetap sama-sama itu sudah cukup menyenangkan, kenapa kita harus berpisah? Terlebih berpisah melalui jalan kematian.

Berpisah dengan bapak yang akhir tahun kemarin juga telah pergi dengan tenang, membuat saya kembali melayangkan pertanyaan ini yang belum ketemu-ketemu jawabnya.

Kira-kira berapa lama kita bisa punya rumah senyaman rumahnya Lala?


Siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini? Mohon bantuannya untuk dapat membagikan jawabannya di kolom komentar, ya. Terima kasih.[]

Sumber gambar: Pexels.com