Dua pekan ini saya merasa sangat terpukul.

Sebabnya terutama, Domain Authority mendadak merosot gak ada tega-teganya sama so called blogger sejak 2011 seperti saya. Disrupsi ini gara-gara MOZ, sebagai Tuhannya parameter pengukuran krusial bernama DA itu yang juga dijadikan patokan penentuan fee oleh Agency di Jabodetabek, memperbaharui algoritmanya dan menamakan project improvement ini dengan "Domain Authority 2.0".

Seketika, DA bloger-bloger di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, merosot tajam. Tak pandang senior atau junior. Yang paling ekstrem, ada bloger yang nilai DA-nya menyusut sadis 20 poin dari sebelumnya 38 menjadi 18. Siapa dia? Rahasia.

Memang tidak semua bloger mengalami penyusutan Domain Authority di awal Maret 2019 ini. Bloger-bloger dengan topik niche alias fokus pada satu topik saja semacam finance, travelling, foodies, fashion, rata-rata skor Domain Authority mereka stabil.

Sementara saya sebagai bloger gado-gado yang komposisi sayurannya udah layu gak ada gizinya, bumbu kacangnya asem bahkan hasil ulekannya kagak halus sama sekali, mengalami penurunan DA 6 poin dari 18, sekarang 12 saja. Poin 12 ini kalau saya tidak salah, adalah poin DA tahun 2015.

Perjuangan berdarah-darah selama 3, hampir 4 tahun untuk meningkatkan DA pun sia-sia saja, dan dikembalikan oleh Tuhannya DA ke skor mula-mula yaitu 12. Berbekal skor 12, saya bakalan susah dapet tawaran postingan berbayar. Minimal di atas 15 poin lah, baru bisa, itu pun kemungkinannya kecil sekali.

Terus terang saja, selama dua minggu ini saya kepikiran untuk berhenti ngeblog saja. Toh selama ini pun gak ada yang peduli juga, pikir saya.

Ngeblog itu ngabisin kuota, menguras kinerja otak yang dipaksa mikirin hal-hal yang baru padahal udah capek kerja eight to five setiap harinya, dan terutama alasan paling masuk akal untuk berhenti dari kegiatan sekaligus kegemaran yang menurut orang awam gampang ini, sungguh-sungguh menghabiskan waktu yang sangat-sangat tidak sedikit.

Waktu untuk keluarga pun seringkali harus saya korbankan untuk menggapai hal-hal yang tidak konkret, salah satu hal yang fana itu adalah mengejar skor DA minimal mencapai 20 lah biar kesempatan dapet job tulisan lebih terbuka lebar.

Tapi, barusan saya mikir lagi.

Apakah ngeblog harus selalu dimotifkan untuk mengejar hal-hal eksak semacam skor DA? Bukankah awal saya menulis blog ini justru sebagai pelarian dari hal-hal eksak di lingkaran sosial yang sangat membelit urat syaraf semacam kapan wisuda, kapan nikah, kapan punya rumah, kapan punya anak, kapan punya mobil, kapan berinvestasi untuk hari tua.

Lah ini kenapa kok sekarang justru saya mengikat pikiran sendiri kepada skor DA, rangking Alexa, dan tawaran postingan berbayar?

*

Saat membeli lauk makan siang berupa soto Betawi barusan di kala bulan tua ini, di seberang jalan ada yang jualan ember. Biasanya saya melihat pagi-pagi, Bapaknya saja yang menunggu pembeli ember, tapi Minggu siang barusan, ia ditemani sang istri dan satu anak.

Mereka duduk di kursi plastik tanpa sandaran seperti yang biasa saya temui di Warteg. Tanpa peneduh apa-apa, sebuah terpal sekalipun, padahal cuaca tadi cukup terik menjelang pukul 12 siang.

Saya merasa, kegiatan yang mereka lakukan di siang bolong ini begitu sarat penderitaan. Tapi, mereka kok baik-baik saja, ya? Dari mana saya tahu mereka baik-baik saja? Wajah mereka terlihat bahagia saja gitu dalam menikmati kehidupan yang keras ini: senyum, ketawa, sambil menatap satu layar hape yang sama.

Tidak seperti orang-orang yang saya pernah saksikan di dalam KRL Jabodetabek. Di mana semua penghuni KRL wajahnya kuyu, padahal mereka kan pekerja korporat yang seragamnya rapi-rapi itu, bukan? Pekerja kerah putih yang setiap hari agenda kerjanya ketemuan sama klien di Starbucks bahkan sesekali di lapangan golf, dan privilage-privilage lain?

Jualan si Bapak penjual ember itu, saya perhatikan selama ini, jarang banget ada yang beli. Namun tetap saja, jam setengah enam kurang saat saya lewat jalan kaki pagi, ia sudah bongkar muat ember-ember berwarna abu-abu yang jauh dari syarat estetis instagramable itu dari pickup orang lain. Mau subuh itu hujan pun dia tetap jualan! Heran saya. Kok ada orang seistiqamah beliau.

Di sebelah tukang ember barusan, saya juga melihat ada 3 teknisi outsourcing Indihome sedang pulling alias narik kabel untuk menginstal jaringan internet pelanggan barunya. Menyusuri dari satu tiang listrik ke tiang listrik lainnya bersandar pada tangga aluminium yang sudah melengkung. Diterpa siang terik, rona wajah mereka saya lihat capek, kulit kering, tubuh kurus.

Gila, hari Minggu, di bulan tua, mereka harus bekerja. Dengan gaji yang saya yakin untuk mencapai standar UMR pun enggak nyampe, diperpanjang kontrak ulang dengan durasi singkat sebanyak enam bulan lagi pun mungkin mereka malah bersyukur.

Bukankah mereka patut saya daulat sebagai pekerja keras, yang pada hari Minggu pun harus tetap bekerja melayani customer? Mau mereka qerja bagai quda setiap hari dari pagi buta sampai pulang malam lantaran lembur pun, saya yakin gak bakalan penghasilan mereka sebulan dapat menyamai penghasilan harian Ria Ricis.

Seketika, muncul keinginan untuk menuliskan perjuangan mereka di blog ini. Mereka terlalu bagus untuk disia-siakan, mereka harus lebih sering untuk diceritakan.

Sekejap, bayang-bayang kemerosotan Domain Authority di awal Bulan Maret 2019 ini pun lesap. Ngeblog toh sudah lebih dari cukup dilakukan di rumah yang teduh, tidak mengeluarkan keringat, tidak mengorbankan nyawa dengan panas-panasan manjat-manjat tiang listrik, atau jualan ember dari setengah enam pagi dan harus ikhlas mengemas kembali ember-ember yang belum menemukan pembelinya 13 jam kemudian pada penghujung petang.[]