Usia manusia memang mustahil mampu dikendalikan. Ia berada di luar kendali; tidak bisa dihentikan sejenak, dipercepat atau diputar ulang. Uban perlahan menyembul sehelai-sehelai di berbagai kuadran kepala. Kantung mata yang dulu dapat mudah terhapus cukup dengan tidur teratur 8 jam sehari, kini, selain sulit untuk dapat tidur tenang 8 jam sehari, makin bergelayut saja si kantung hitam itu di mata saya.

Tetapi sebagian orang memercayai, bahkan mungkin sebagian besar orang, menjadi muda atau stay young and forever young itu dapat diusahakan. Melalui perawatan tubuh, perawatan wajah, mengenakan atau menerapkan fashion sesuai tren terkini, hingga operasi plastik. Ya, dapat diusahakan dalam tanda kutip, sesuai kekuatan modal masing-masing orang, tentu saja.

Pertama kali saya wawas diri bahwa saya itu sudah tua adalah saat menyadari ponakan saya yang kelahiran 1999 sudah menginjak semester 4 di perkuliahan. Dan kalau begitu, yang masuk kuliah pertengahan tahun 2018 kemarin rata-rata kelahiran tahun 2000!

Dengan demikian, lulusan SMA yang akan masuk kuliah pertengahan tahun 2019 mendatang adalah kelahiran tahun 2001. Gila, udah selisih 10 tahun dengan tahun kelahiran saya! Sementara, masih saja saya merasa sebaya ketika salat berjamaah di masjid komplek dengan anaknya tetangga yang masih kelas 2 SMA. Padahal saya udah tua bangka.

Dulu, semasih usia 20an awal, saya merasakan energi yang aktif bereaksi di tubuh dan otak saya begitu meletup-letup. Mau olahraga jenis apa pun dijabanin, enggak terasa lelah. Bersepeda menempuh jarak sejauh apa pun bukan hal yang mustahil. Mau makan jeroan tiap hari, nasi goreng tiap malam sepulang kuliah jam 11 malam, bukan hal yang bakalan berujung malapetaka.

Bahkan minum yoghurt yang rasanya paling asam berpadukan pempek dengan cuko yang pedasnya biadab saat hari-hari awal sahur bulan puasa pun, perut enjoy-enjoy saja, tidak seperti sekarang yang mungkin saya bakal termencret-mencret di rumah berhari-hari karenanya.

Jujur saja, saya pernah berpikiran, tubuh dan otak saya bakalan konsisten seperti itu, seprima itu sampai saya tua nanti. Hingga keyakinan saya pun berubah ketika baru beberapa hari berlalu selepas saya berulang tahun ke 25. Pagi itu, baru setengah perjalanan menuju kantor di Buah Batu, Bandung, kepala saya pusing. Rasa pusing yang berbeda; belum pernah saya rasakan kepala saya sepusing itu sebelumnya.

Sepulang kerja petang harinya saya ke dokter, ternyata saya hipertensi dengan tekanan darah 160/100. Padahal, setahun belakangan pada waktu itu, saya lumayan ketat menjaga pola makan dan setidaknya sudah menerapkan pola hidup sehat dengan menyempatkan lakukan 7 minutes workout di rumah setiap pagi.

Tapi hasilnya, mengapa tubuh saya menolak untuk sehat, malah menghadiahkan penyakit yang sampai saya mati nanti pun, akan terus mengancam saya dengan serangan stroke jika saya tidak berhati-hati sekali menjaga pola hidup.

Penyakit saya sempat membaik, namun setengah bulan kemudian tekanan darah saya tinggi lagi dengan tensi yang sama. Saya sempat dirundung keputusasaan, dan tiap saat mempertanyakan kenapa sih saya diciptakan kalau hanya untuk dibebani penyakit yang lumayan menyiksa kepala, pencernaan, menguras produktivitas, dan mengikis iman waktu itu.

*

Hingga pada satu titik, saya menyadari satu hal. Hidup ya memang seperti ini, untuk menghadapi berbagai perasaan. Hidup ternyata tidak hanya menyuguhkan kebahagiaan, tetapi menyumpalkan juga perasaan lain berupa rasa sakit, rasa sedih, hingga rasa sesal; menyesali masa lalu, menyesali perbuatan dan keputusan yang telah kita lakukan pada masa yang lampau.

Padahal, hidup itu sangat cair. Hari ke hari, manusia terus berpindah, mengalir dari entah ke entah. Seperti kata Bimbo dalam "Hidup dan Pesan Nabi", Hidup bagaikan garis lurus, tak pernah kembali ke masa yang lalu. Hidup bukan bulatan bola yang tiada ujung dan tiada pangkal.

Setelah kesadaran saya perlahan bertumbuh, saya paham, mustahil saya muda senantiasa. Akan ada masanya, tepatnya yang saya rasakan saat ini, saya harus berusaha tiga kali lipat lebih keras untuk menjaga berat badan agar tidak parah-parah banget intensitas obesitasnya di mata dokter pabrik.

Sebab memang sedari saya lahir pun sudah terlahir gendut, apalagi sekarang setelah menikah dan punya anak dan bekerja tiap hari demi cerobong keluarga yang mengepul. Kalau tidak menjaga pikiran dan otak dan menyempat-nyempatkan di tengah waktu yang terasa makin sempit, mungkin 120 kilogram di nominal timbangan bakal dengan mudahnya saya capai dalam hitungan pekan.

Ya, menurut saya, salah satu tanda-tanda penuaan bagi laki-laki usia di atas 27 yang sudah menikah adalah, semakin sulitnya menahan laju berat badan. Kecuali kalau kami sengaja menyempatkan untuk berjuang dengan segala cara demi menjaga berat badan di tengah kesibukan dan pikiran yang sudah penuh dengan keduniaan.

Pernah saya mencari solusi untuk menjadi muda senantiasa dengan melihat orang-orang sekeliling saya, maupun orang-orang yang pernah saya temui di dunia nyata maupun di dunia maya. Namun yang semua orang tawarkan yang juga sempat saya coba dan saya kecewa adalah, semua solusi itu bersifat fana berupa kesementaraan, yang hanya dirasakan kenikmatannya saat itu saja, setelahnya, malah perasaan untuk mencari semakin liar dan sulit untuk dikendalikan.

Kurang lebih sama seperti orang yang kecanduan narkoba dan terus mencari-cari jenis-jenis narkoba yang lebih nikmat, lebih nikmat, yang dapat lebih jauh menjauhkan mereka dari dunia yang mereka anggap fana, ironisnya, solusi yang mereka mahal-mahal dan susah-susah beli itu sama fananya dengan dunia ini.

Pada suatu waktu hingga hari ini kemudian saya percaya, tidak bakalan ada seorang pun yang tahu resep-resep awet muda, tips dan trik menjadi pribadi yang senantiasa berjiwa muda di tengah usia yang beranjak menua, dan munculnya generasi-generasi yang lebih muda dengan segenap kemajuan teknologi yang makin gila canggihnya.

Sebab kehidupan manusia ya memang begitu saja fasenya: bayi-balita-anak-remaja-alay-dewasa-sok masih muda-baru menerima kalau manusia itu memang seharusnya beranjak tua-orang tua-orang tua yang kembali bertingkah seperti bayi-kembali jadi tanah. Sudah, begitu saja, tak perlu dirisaukan, tak perlu diakali segala biar manusia bertahan di suatu fase yang paling disukai dan dikangeni.

Akhir-akhir ini saya jadi kepikiran untuk mengenakan kemeja atau baju koko saja kalau ke luar rumah, seperti bapak-bapak lain. Apa sih yang harus membuat saya tidak nyaman untuk dilihat orang sebagai bapak-bapak? Lah memang sudah jadi bapak-bapak, sudah punya istri, sudah punya anak, dan ya sudah, terima saja.

Memang saya sempat kepikiran untuk senantiasa muda walaupun sudah punya istri dan anak-anak sudah besar kelak. Salah satu perilaku ceteknya misal dengan kukuh mengenakan setelan batik berpadukan celana jeans dan sepatu kets ketika pergi ke kondangan. Atau dengan mengenakan kaus oblong dan celana jeans saat silaturahmi lebaran. Saya pikir-pikir lagi sekarang, sepertinya itu bukan lagi fase di mana seharusnya saya berada.

Ke kondangan, ya sudah pake batik dengan setelan pantofel dan celana bahan; paling tidak celana chino dengan tujuan menghormati orang yang telah mengundang saja. Begitu juga, dengan tujuan yang sama, kalau silaturahmi lebaran ataupun ke rumah saudara istri atau saya sendiri, ya sudah pake baju koko, kemeja, minimal polo shirt lah.

Tak butuh lagi berusaha keras demi pembuktian diri saya yang sebelumnya menjadi ajang pamer pesan sosial di t-shirt print yang dulu biasa membalut tubuh saya, dan pamer keren-kerenan lain yang mungkin sebenarnya gak ada keren-kerennya di mata orang lain, cuma keren di pikiran saya sendiri.

Memakai pakaian sesuai situasi dan kondisi saja, sepertinya sudah menjadi hal yang bikin hati nyaman mulai hari ini dan hari-hari mendatang. Karena saya sudah tidak muda lagi.

Itu baru perkara baju yang kata orang remeh temeh. Bagaimana menyoal hal lain yang akan mengubah dunia dengan value-value hidup? Mengunggah keseharian yang jauh dari estetika dan etika di IG Live, IG TV, IG Stories? Najis.[]

Sumber gambar: Pexels