Saya yakin, sebenarnya masing-masing generasi—bukan hanya millenials saja—tidak akan pernah puas dengan pekerjaannya saat ini.

Sebab kapan sih manusia terpuaskan dengan keadaan? Bukan manusia namanya kalau gampang puas, tidak pernah mengeluh, anti sambat. Malaikat namanya.

Tapi baiklah, kita bahas millenials.

Kebetulan secara usia, saya masih masuk generasi ini. Yang saya amati dari teman-teman saya, kami kepenginnya banyak. Cita-cita kami luhur. Impian kami adiluhung. Padahal, setelah menghadapi dan jalani dunia nyata yang jauh dari semerbak bunga-bunga, suatu hari kami ketiban harapan kami sendiri yang dipupuk sejak dini oleh orangtua, guru, dosen, dan bejibun referensi-referensi keren yang memenuhi otak kami.

Mungkin perbedaan millenials dengan generasi sebelumnya: keberlimpahan referensi. Dari berbagai media, begitu silau pukauan kesuksesan orang-orang besar yang mudah kami temui cukup dengan ketukan jari dari gawai dalam genggaman yang setiap saat membelit tangan kami. Dan pukauan-pukauan lain yang sebetulnya tak penting-penting amat semacam destinasi liburan atau tempat makan.

Sehingga, bukan hanya pekerjaan, mau makan di mana siang ini pun kami kebanyakan mikir. Harus baca review dulu di zomato; gimana ambience-nya, variasi menunya kece enggak, lokasinya mudah dijangkau atau keselek gang senggol, gampang dapet lapak parkir enggak, instagramable atau acakable. Dapet cashback gak kalau pesan via apps. Bikin kantong bolong atau engga. Di otak kami riuh pertanyaan antara ya dan tidak. Ujung-ujungnya gak jadi beli.

Ribet.

Mungkin itu jawabannya: kami, millenials itu ribet. Berserak-serak informasi dan referensi yang kami telan selama ini ternyata malah menyulitkan diri sendiri sekadar untuk menentukan pilihan, termasuk pilihan pekerjaan. Merasa saya gak cocok kerja begini di sini, padahal baru juga kerja beberapa bulan. Bukankah selama dapur ngebul, itu artinya tidak ada yang salah dengan pekerjaan saat ini?

Apakah itu salah, karena bekerja harus sesuai renjana, karena bekerja adalah berkarya?

Saya orang yang memercayai, bekerja dan berkarya, tidak harus terkemas dalam satu paket. Berkarya ya berkarya saja sepenuh hati di mana saja, tidak harus di tempat kerja. Lakukan, dan lakukan tanpa mengharap ada umpan balik.

Tetapi bekerja, saya anggap seperti salat 5 waktu; saya perlakukan ia sebagai kewajiban, sekaligus ungkapan terima kasih kepada Tuhan yang sudah membiarkan saya hidup sampai sekarang, dan saya merasa harus bertanggung jawab untuk mencipratkan anugerah ini kepada istri, anak, dan keluarga-keluarga kami.[]

Catatan: Ini adalah salinan jawaban saya di Quora untuk pertanyaan Mengapa banyak sekali millenials yang tidak puas dengan pekerjaannya?

Sumber gambar: Pexels